Rintik hujan jatuh membasahi tanah.
Turunnya hujan seakan seperti alunan musik klasik. Begitu indah dan berkelas.
Langit nan gelap dan petir yang bergemuruh seakan membelah bumi menjadi pemanis
dari alunan musik klasik.
Aku. Seorang penulis gila yang
karyanya tak pernah muncul di publik, saat ini sedang di kursi dekat jendela di
sebuah kedai kopi di Jakarta. Menyibukan diri dengan laptop dan tulisanku.
Tulisan jelek yang tak pernah memuaskan pembacanya. Tetapi, aku tak pernah bisa
berhenti menulis seakan-akan menulis adalah jantungku. Bila berhenti, aku akan
mati. Dengan mata terpejam pun aku dapat menulis sebuah cerita hanya dengan
mendengar suara indah dari papan keyboard
laptopku. Aku hatam dalam menghafal huruf per huruf maupun angka yang tersusun rapi
dalam keyboard laptop ini. Semua itu
seakan merasuki jiwaku. Menyentuh relung hati terdalamku.
Begitu
cintanya aku dengan dunia sastra hingga ku abdikan seluruh hidupku dengannya di
dalam tulisan-tulisan fiksi karanganku yang tak pernah dipublikasikan. Aku
cinta sastra, aku gila bila sastra di musnahkan di dunia ini.
Saat ini usiaku sudah 35 tahun dan
selama hampir lebih dari 20 tahun aku tak pernah berhenti mencintai sastra.
Ketika aku menginjak umur 15 tahun, aku dikenalkan dengan dunia sastra oleh
guru sekolahku. Awalnya ia membawakanku sebuah buku karangan Pramoedya Ananta
Toer. Tanpa ragu, aku langsung jatuh cinta sejak bait pertama aku membaca tulisan
karya seorang fana itu. Aku tak menyangka di dunia ini ada tulisan yang begitu
indah yang tersusun begitu rapi, melahirkan sebuah mahakarya. Eloknya bahasa
yang digunakan beliau membuatku begitu terpana. Untuk pertama kalinya dalam
hidupku, aku merasa jantungku bergetar begitu dahsyat tiap kali aku membaca baris
per baris tulisan dari Pramoedya Ananta Toer, saat itu pula aku menyadari bahwa
aku mulai mencintai sastra. Ketika berumur 20 tahun, barulah aku memulai
menulis karyaku sendiri. Tetapi, aku tak memiliki nyali untuk mengantarkan
karya itu ke perusahaan pencetak buku. Aku pesimis karyaku akan diterima di
masyarakat yang notabene suka dengan kisah romansa, sementara sastra karanganku
adalah sastra yang begitu kasar. Sebuah sastra yang menceritakan tentang
penderitaan dan air mata. Oh, dunia ini memang begitu kelam untukku.
Aku
tak peduli dengan cinta dari seorang manusia, karena cinta itu takkan seabadi
sastra—sebuah mahakarya yang akan terus terkenang. Selalu ada. Cinta manusia
hanyalah sesaat. Bila cinta manusia abadi adanya—seperti kata orang-orang—tak
mungkin kedua orang tuaku memutuskan untuk berpisah. Tak mungkin aku dititipkan
di panti asuhan semenjak mereka berpisah karena tak satupun dari mereka ingin
memiliki dan mengakuiku sebagai buah hati. Cinta adalah sebuah fantasi yang
menjerumuskan manusia ke dalam gua bawah laut yang begitu gelap dan suram. Aku
tak percaya cinta, terutama bila itu bersangkutan dengan cinta kepada seorang
manusia. Maka dari itu, aku tak pernah menjalin hubungan batin kepada seorang
manusia, terutama kepada seorang perempuan. Perempuan adalah mahakarya Tuhan
yang begitu elok. Tetapi keelokannya hanyalah sesaat. Bagiku hidup menyendiri
dengan sebuah tulisan yang disebut sastra lebih asyik, dibanding harus hidup
dengan seorang perempuan. Pastilah rumit dibuatnya hidupku yang sudah rumit
ini.
“Mas
Adi, ini kopi hitam tanpa gulanya!” Ucap seorang perempuan, suaranya begitu
lembut dan merdu. Ia mengantarkanku secangkir kopi hitam dan menaruhnya tepat
di sebelah laptop hitam milikku.
Aku
hanya bisa tersenyum kepada perempuan muda itu sambil mengucap “Terima kasih”
kepadanya. Perempuan pengantar kopi itu cantik. Tetapi aku sama sekali tidak
tertarik akan pesonanya. Walaupun katanya ia adalah perempuan tercantik di
daerah ini. Ah, mungkin orang-orang itu hanya nafsu saja melihat perempuan
cantik nan polos seperti dia.
Kedai
kopi ini adalah kedai kopi favoritku, dekorasi nya begitu sederhana dan indah.
Dindingnya dilapisi wallpaper kayu,
lantainya juga terbuat dari kayu. Sungguh, tiap kali aku menginjakkan kaki di
kedai kopi ini, aku merasakan sebuah ketenangan di dalam benakku. Setelah
rutinitas yang begitu melelahkan setiap harinya, berkunjung ke kedai kopi ini
seakan menjadi liburan yang singkat untukku. Dekorasinya yang begitu hangat
mengingatkanku akan sebuah rumah yang berada di tengah hutan belantara. Sebuah rumah
berdinding kayu dan memiliki pemanas ruangan yang terbuat dari tumpukan kayu
yang dibakar oleh api. Sungguh tidak masuk akal! Bagaimana bisa kedai kopi yang
berada di jantung kota seperti ini memiliki suasana hangat seperti itu?
Kehangatan
itu adalah alasan mengapa aku jatuh cinta dengan tempat ini. Tiga kali dalam
seminggu, aku pasti datang ke sini untuk mencicipi kopi hitam tanpa gula yang
disajikan di kedai kopi ini. Kopi hitam tanpa gula yang disajikan disini,
memiliki aroma yang begitu khas yang membuat para pecinta kopi terasa seperti
berada di surga bila menghirupnya. Perpaduan wangi kopi espresso hitam yang kuat, dipadukan dengan kopi luwak asli.
Rasanya? Jangan tanya. Begitu dahsyat. Walaupun terdengar begitu aneh kopi espresso dicampur dengan kopi khas
Negeri kita tercita ini. Tapi ternyata, perpaduan itu membuat suatu rasa yang
begitu dahsyat. Nikmatnya kopi ini akan terus melekat di ingatan para
pecintanya.
Ku
ambil cangkir kopi itu lalu mulai menghirupnya. Meresapi nikmatnya aroma kopi
perpaduan luwak dan espresso ini. Tak
lama, akupun mulai meneguk kopi itu. Sungguh nikmat. Pikiranku pun terasa
begitu terbuka, membuatku leluasa untuk menulis. Kopi adalah sahabat terbaikku
yang selalu menemaniku ketika aku menulis. Selain menjadi seorang penulis—yang
karyanya tak pernah di publikasikan—aku juga merupakan akuntan di sebuah
perusahaan besar di Jakarta.
Saat
ini waktu telah menunjukkan pukul 6 sore. Hujan deras masih turun membasahi
bumi, suara petir yang tadinya terdengar begitu besar seakan membelah bumi,
saat ini suaranya meredup seperti bisikan langit. Aku berhenti menulis sejenak
dan menikmati suasana hujan dari jendela dekat tempat dudukku. Dari sini, aku
dapat melihat pemandangan orang-orang yang sibuk membuka payung mereka,
orang-orang yang sedang berlari menerjang hujan, dan bahkan orang-orang yang
berduduk manis dan mengumpat didalam kaleng besar beroda yang mereka kendarai.
Kaleng besar beroda itu kemudian disebut orang-orang sebagai ‘Mobil’.
Dari
sekian banyak orang yang berjalan berlalu-lalang di depan kedai kopi ini,
mataku tertuju kepada satu perempuan yang bersembunyi dibalik payung berwarna
kuning miliknya. Wajah perempuan itu tak terlihat karena tertutup dengan
payungnya yang begitu menyilaukan itu. Hanya kaki putihnya yang begitu langsing
yang terlihat. Kakinya yang indah membuatku penasaran dengan wajah si pemilik
kaki indah itu.
Pasti mukanya jelek,
pikirku. Akupun terkekeh dengan fantasi yang tersirat di dalam pikiranku
mengenai rupa dari perempuan yang bersembunyi di balik payung kuning itu. Saat
ini hujan begitu deras dan ia malah bersembunyi di balik payung, bukannya
melindungi kepalanya dengan payung kuning nan besar itu.
Seakan
terpaku, mataku tak bisa lepas dari perempuan itu. Menit demi menit berlalu dan
perhatianku disita olehnya.
Penasaran.
Mungkin hanya itu saja yang dapat menggambarkan perasaanku saat ini. Entah
kenapa, aku merasa begitu penasaran dengan sosok perempuan berpayung kuning
itu. Entah bagaimana bentuknya, aku begitu penasaran. Kaki indahnya itulah yang
menghantarkanku dengan rasa keingintahuanku terhadap rupa perempuan itu. Aku
terdiam di bangkuku dengan mata yang terpaku kepada perempuan itu. Sungguh
kejadian yang begitu aneh. Sebelumnya, semua ini tak pernah terjadi kepadaku.
Aku selalu tak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarku. Tetapi, mengapa
hanya dengan sepasang kaki indah perhatianku begitu tersita?
Payung
itu perlahan terangkat. Jantungku pun berdebar begitu kencang, seperti seorang
anak kecil yang menunggu hadiah utama keluar dari sebuah lotre. Aku tak tahu
apa yang telah terjadi kepada tubuhku, semua ini begitu aneh.
Semakin
terangkat payung itu semakin memperlihatkan tubuh perempuan yang dibalutkan dress berwarna krem itu. Tubuh perempuan
itupun tak kalah indah dengan kakinya. Tubuhnya begitu indah dan pinggangnya
ramping membentuk sebuah lengkungan. Dress
yang ia kenakan, ia biarkan basah terguyur oleh dinginnya air hujan. Sungguh
perempuan yang aneh. Saat ini wajahnya masih belum terlihat karena payung itu
menghalanginya.
Payung
itu terangkat lagi, kali ini perempuan itu membuang payungnya ke udara
menunjukkanku wajahnya. Akupun seakan terdiam. Terpana. Bibirku membisu.
Wajahnya seelok tulisan dari karya Pramoedya Ananta Toer. Senyumnya merekah
seperti bunga mawar. Jantungku semakin berdegup kencang. Tetapi, mataku tak
dapat dialihkan dari pesona perempuan aneh itu.
Mata
perempuan itu seakan bersinar. Begitu bahagia. Matanya begitu bulat dan indah. Dari
kaki hingga wajahnya, ia begitu indah. Ini pertama kalinya bagiku, mengakui
seorang perempuan begitu sempurna penampilannya.
Perempuan
itu mengangkat kepalanya keatas lalu memejamkan matanya dengan senyum yang
masih melengkung di wajah eloknya. Raut wajahnya terlihat begitu bahagia,
seakan seakan bebannya terlepas bersama hujan yang turun. Banyak orang
melihatnya dengan tatapan yang tidak mengenakkan. Mungkin mereka iri dengan
kesempurnaan yang dimilikinnya. Tanpa terasa senyum mulai melengkung di
bibirku.
Kebahagiaan
perempuan itu melihat hujan, seperti aku ketika melihat sebuah mahakarya dari
sebuah sastra. Tak ada yang bisa menandinginya. Walaupun baru sekali melihat
perempuan ini, aku merasa sebagian diriku tercermin di dalam dirinya. Aku tahu
ini semua aneh, tetapi firasatku begitu bagus akan semua ini. Baru kali ini aku
merasa begitu tersihir dengan pesona seorang hawa.
Aku
menantang adrenalinku dengan berdiri dari tempat dudukku dan berjalan
menghampiri perempuan aneh yang sedang menyerahkan diri kepada hujan itu.
Semakin aku dekat dengan perempuan itu, semakin aku merasa yakin. Firasatku
mengatakan, dialah yang terbaik. Tanpa malu aku semakin mempercepat langkah
kakiku menuju perempuan itu walau hujan yang deras ini turun membasahi
pakaianku. Aku tak peduli akan itu semua. Perasaan ini begitu langka, aku tak
pernah merasakan ini sebelumya. Kecintaanku sebelumnya hanyalah untuk sastra.
Tetapi, setelah melihat perempuan itu, aku merasa hatiku mulai berselingkuh
dari sastra. Karena, perempuan ini sama indahnya dengan sebuah sastra. Dengan
melihatnya saja, aku merasakan keabadian sastra yang tersirat di diri seorang
hawa. Sungguh, perasaan langka yang tak seharusnya ku acuhkan.
Aku
berjalan dan berjalan mendekati perempuan itu. Tanpa ragu ku tarik tangannya,
tubuhnya pun berputar. Waktu seakan-akan melambat ketika tubuhnya berputar ke
arahku. Bagaikan sedang berdansa walts, ku
pegang pinggangnya. Tubuh kami berhimpitan. Ia pun menenggakkan kepalanya untuk
menatap mataku. Mata itu adalah sepasang mata yang tak akan pernah ku temui
lagi seumur hidupku bila ku lewatkan begitu saja, begitu indah. Setiap inci
dari tubuh perempuan ini terlihat begitu indah. Tuhan, sungguh indah karya-Mu
ini.
Kami
berdua terpaku ke dalam tatapan satu sama lain. Tubuh mungilnya terasa begitu
pas dengan tubuhku yang tinggi ini. Jantungku bergetar begitu dahsyat. Ia
adalah mahakarya dari Tuhan Yang Maha Esa yang baru saja ku temukan.
Aku
tahu yang aku lakukan saat ini gila. Mungkin perempuan ini akan menamparku
beberapa saat lagi. Tetapi, sebelum semua itu terjadi, aku harus menikmati
keindahan mahakarya Tuhan ini. Dengan menatap wajahnya, membuatku merasakan
surga itu nyata. Sungguh, aku tak mengerti mengapa pesona perempuan aneh ini
begitu dahsyat.
“Kamu sembunyi dimana selama ini?” Tanyaku,
dari sekian banyak perkataan yang ku rangkai di dalam otakku, hanya kata itulah
yang berhasil keluar dari mulutku. Perempuan itu membisu, tidak menjawab
pertanyaanku. Matanya melihatku dengan pandangan yang bingung.
Tunggu,
itu bukan tatapan seorang yang sedang bingung. Tatapan itu terlalu berbinar
bagai bintang bersinar di balik pupil matanya. Apakah
ia merasakan hal yang sama kepadaku?
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar