Jumat, 20 Mei 2016

Perempuan di Tengah Hujan


            Rintik hujan jatuh membasahi tanah. Turunnya hujan seakan seperti alunan musik klasik. Begitu indah dan berkelas. Langit nan gelap dan petir yang bergemuruh seakan membelah bumi menjadi pemanis dari alunan musik klasik.
            Aku. Seorang penulis gila yang karyanya tak pernah muncul di publik, saat ini sedang di kursi dekat jendela di sebuah kedai kopi di Jakarta. Menyibukan diri dengan laptop dan tulisanku. Tulisan jelek yang tak pernah memuaskan pembacanya. Tetapi, aku tak pernah bisa berhenti menulis seakan-akan menulis adalah jantungku. Bila berhenti, aku akan mati. Dengan mata terpejam pun aku dapat menulis sebuah cerita hanya dengan mendengar suara indah dari papan keyboard laptopku. Aku hatam dalam menghafal huruf per huruf maupun angka yang tersusun rapi dalam keyboard laptop ini. Semua itu seakan merasuki jiwaku. Menyentuh relung hati terdalamku.
Begitu cintanya aku dengan dunia sastra hingga ku abdikan seluruh hidupku dengannya di dalam tulisan-tulisan fiksi karanganku yang tak pernah dipublikasikan. Aku cinta sastra, aku gila bila sastra di musnahkan di dunia ini.
            Saat ini usiaku sudah 35 tahun dan selama hampir lebih dari 20 tahun aku tak pernah berhenti mencintai sastra. Ketika aku menginjak umur 15 tahun, aku dikenalkan dengan dunia sastra oleh guru sekolahku. Awalnya ia membawakanku sebuah buku karangan Pramoedya Ananta Toer. Tanpa ragu, aku langsung jatuh cinta sejak bait pertama aku membaca tulisan karya seorang fana itu. Aku tak menyangka di dunia ini ada tulisan yang begitu indah yang tersusun begitu rapi, melahirkan sebuah mahakarya. Eloknya bahasa yang digunakan beliau membuatku begitu terpana. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa jantungku bergetar begitu dahsyat tiap kali aku membaca baris per baris tulisan dari Pramoedya Ananta Toer, saat itu pula aku menyadari bahwa aku mulai mencintai sastra. Ketika berumur 20 tahun, barulah aku memulai menulis karyaku sendiri. Tetapi, aku tak memiliki nyali untuk mengantarkan karya itu ke perusahaan pencetak buku. Aku pesimis karyaku akan diterima di masyarakat yang notabene suka dengan kisah romansa, sementara sastra karanganku adalah sastra yang begitu kasar. Sebuah sastra yang menceritakan tentang penderitaan dan air mata. Oh, dunia ini memang begitu kelam untukku.
Aku tak peduli dengan cinta dari seorang manusia, karena cinta itu takkan seabadi sastra—sebuah mahakarya yang akan terus terkenang. Selalu ada. Cinta manusia hanyalah sesaat. Bila cinta manusia abadi adanya—seperti kata orang-orang—tak mungkin kedua orang tuaku memutuskan untuk berpisah. Tak mungkin aku dititipkan di panti asuhan semenjak mereka berpisah karena tak satupun dari mereka ingin memiliki dan mengakuiku sebagai buah hati. Cinta adalah sebuah fantasi yang menjerumuskan manusia ke dalam gua bawah laut yang begitu gelap dan suram. Aku tak percaya cinta, terutama bila itu bersangkutan dengan cinta kepada seorang manusia. Maka dari itu, aku tak pernah menjalin hubungan batin kepada seorang manusia, terutama kepada seorang perempuan. Perempuan adalah mahakarya Tuhan yang begitu elok. Tetapi keelokannya hanyalah sesaat. Bagiku hidup menyendiri dengan sebuah tulisan yang disebut sastra lebih asyik, dibanding harus hidup dengan seorang perempuan. Pastilah rumit dibuatnya hidupku yang sudah rumit ini.
“Mas Adi, ini kopi hitam tanpa gulanya!” Ucap seorang perempuan, suaranya begitu lembut dan merdu. Ia mengantarkanku secangkir kopi hitam dan menaruhnya tepat di sebelah laptop hitam milikku.
Aku hanya bisa tersenyum kepada perempuan muda itu sambil mengucap “Terima kasih” kepadanya. Perempuan pengantar kopi itu cantik. Tetapi aku sama sekali tidak tertarik akan pesonanya. Walaupun katanya ia adalah perempuan tercantik di daerah ini. Ah, mungkin orang-orang itu hanya nafsu saja melihat perempuan cantik nan polos seperti dia.
Kedai kopi ini adalah kedai kopi favoritku, dekorasi nya begitu sederhana dan indah. Dindingnya dilapisi wallpaper kayu, lantainya juga terbuat dari kayu. Sungguh, tiap kali aku menginjakkan kaki di kedai kopi ini, aku merasakan sebuah ketenangan di dalam benakku. Setelah rutinitas yang begitu melelahkan setiap harinya, berkunjung ke kedai kopi ini seakan menjadi liburan yang singkat untukku. Dekorasinya yang begitu hangat mengingatkanku akan sebuah rumah yang berada di tengah hutan belantara. Sebuah rumah berdinding kayu dan memiliki pemanas ruangan yang terbuat dari tumpukan kayu yang dibakar oleh api. Sungguh tidak masuk akal! Bagaimana bisa kedai kopi yang berada di jantung kota seperti ini memiliki suasana hangat seperti itu?
Kehangatan itu adalah alasan mengapa aku jatuh cinta dengan tempat ini. Tiga kali dalam seminggu, aku pasti datang ke sini untuk mencicipi kopi hitam tanpa gula yang disajikan di kedai kopi ini. Kopi hitam tanpa gula yang disajikan disini, memiliki aroma yang begitu khas yang membuat para pecinta kopi terasa seperti berada di surga bila menghirupnya. Perpaduan wangi kopi espresso hitam yang kuat, dipadukan dengan kopi luwak asli. Rasanya? Jangan tanya. Begitu dahsyat. Walaupun terdengar begitu aneh kopi espresso dicampur dengan kopi khas Negeri kita tercita ini. Tapi ternyata, perpaduan itu membuat suatu rasa yang begitu dahsyat. Nikmatnya kopi ini akan terus melekat di ingatan para pecintanya.
Ku ambil cangkir kopi itu lalu mulai menghirupnya. Meresapi nikmatnya aroma kopi perpaduan luwak dan espresso ini. Tak lama, akupun mulai meneguk kopi itu. Sungguh nikmat. Pikiranku pun terasa begitu terbuka, membuatku leluasa untuk menulis. Kopi adalah sahabat terbaikku yang selalu menemaniku ketika aku menulis. Selain menjadi seorang penulis—yang karyanya tak pernah di publikasikan—aku juga merupakan akuntan di sebuah perusahaan besar di Jakarta.
Saat ini waktu telah menunjukkan pukul 6 sore. Hujan deras masih turun membasahi bumi, suara petir yang tadinya terdengar begitu besar seakan membelah bumi, saat ini suaranya meredup seperti bisikan langit. Aku berhenti menulis sejenak dan menikmati suasana hujan dari jendela dekat tempat dudukku. Dari sini, aku dapat melihat pemandangan orang-orang yang sibuk membuka payung mereka, orang-orang yang sedang berlari menerjang hujan, dan bahkan orang-orang yang berduduk manis dan mengumpat didalam kaleng besar beroda yang mereka kendarai. Kaleng besar beroda itu kemudian disebut orang-orang sebagai ‘Mobil’.
Dari sekian banyak orang yang berjalan berlalu-lalang di depan kedai kopi ini, mataku tertuju kepada satu perempuan yang bersembunyi dibalik payung berwarna kuning miliknya. Wajah perempuan itu tak terlihat karena tertutup dengan payungnya yang begitu menyilaukan itu. Hanya kaki putihnya yang begitu langsing yang terlihat. Kakinya yang indah membuatku penasaran dengan wajah si pemilik kaki indah itu.
Pasti mukanya jelek, pikirku. Akupun terkekeh dengan fantasi yang tersirat di dalam pikiranku mengenai rupa dari perempuan yang bersembunyi di balik payung kuning itu. Saat ini hujan begitu deras dan ia malah bersembunyi di balik payung, bukannya melindungi kepalanya dengan payung kuning nan besar itu.
Seakan terpaku, mataku tak bisa lepas dari perempuan itu. Menit demi menit berlalu dan perhatianku disita olehnya.
Penasaran. Mungkin hanya itu saja yang dapat menggambarkan perasaanku saat ini. Entah kenapa, aku merasa begitu penasaran dengan sosok perempuan berpayung kuning itu. Entah bagaimana bentuknya, aku begitu penasaran. Kaki indahnya itulah yang menghantarkanku dengan rasa keingintahuanku terhadap rupa perempuan itu. Aku terdiam di bangkuku dengan mata yang terpaku kepada perempuan itu. Sungguh kejadian yang begitu aneh. Sebelumnya, semua ini tak pernah terjadi kepadaku. Aku selalu tak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarku. Tetapi, mengapa hanya dengan sepasang kaki indah perhatianku begitu tersita?
Payung itu perlahan terangkat. Jantungku pun berdebar begitu kencang, seperti seorang anak kecil yang menunggu hadiah utama keluar dari sebuah lotre. Aku tak tahu apa yang telah terjadi kepada tubuhku, semua ini begitu aneh.
Semakin terangkat payung itu semakin memperlihatkan tubuh perempuan yang dibalutkan dress berwarna krem itu. Tubuh perempuan itupun tak kalah indah dengan kakinya. Tubuhnya begitu indah dan pinggangnya ramping membentuk sebuah lengkungan. Dress yang ia kenakan, ia biarkan basah terguyur oleh dinginnya air hujan. Sungguh perempuan yang aneh. Saat ini wajahnya masih belum terlihat karena payung itu menghalanginya.
Payung itu terangkat lagi, kali ini perempuan itu membuang payungnya ke udara menunjukkanku wajahnya. Akupun seakan terdiam. Terpana. Bibirku membisu. Wajahnya seelok tulisan dari karya Pramoedya Ananta Toer. Senyumnya merekah seperti bunga mawar. Jantungku semakin berdegup kencang. Tetapi, mataku tak dapat dialihkan dari pesona perempuan aneh itu.
Mata perempuan itu seakan bersinar. Begitu bahagia. Matanya begitu bulat dan indah. Dari kaki hingga wajahnya, ia begitu indah. Ini pertama kalinya bagiku, mengakui seorang perempuan begitu sempurna penampilannya.
Perempuan itu mengangkat kepalanya keatas lalu memejamkan matanya dengan senyum yang masih melengkung di wajah eloknya. Raut wajahnya terlihat begitu bahagia, seakan seakan bebannya terlepas bersama hujan yang turun. Banyak orang melihatnya dengan tatapan yang tidak mengenakkan. Mungkin mereka iri dengan kesempurnaan yang dimilikinnya. Tanpa terasa senyum mulai melengkung di bibirku.
Kebahagiaan perempuan itu melihat hujan, seperti aku ketika melihat sebuah mahakarya dari sebuah sastra. Tak ada yang bisa menandinginya. Walaupun baru sekali melihat perempuan ini, aku merasa sebagian diriku tercermin di dalam dirinya. Aku tahu ini semua aneh, tetapi firasatku begitu bagus akan semua ini. Baru kali ini aku merasa begitu tersihir dengan pesona seorang hawa.
Aku menantang adrenalinku dengan berdiri dari tempat dudukku dan berjalan menghampiri perempuan aneh yang sedang menyerahkan diri kepada hujan itu. Semakin aku dekat dengan perempuan itu, semakin aku merasa yakin. Firasatku mengatakan, dialah yang terbaik. Tanpa malu aku semakin mempercepat langkah kakiku menuju perempuan itu walau hujan yang deras ini turun membasahi pakaianku. Aku tak peduli akan itu semua. Perasaan ini begitu langka, aku tak pernah merasakan ini sebelumya. Kecintaanku sebelumnya hanyalah untuk sastra. Tetapi, setelah melihat perempuan itu, aku merasa hatiku mulai berselingkuh dari sastra. Karena, perempuan ini sama indahnya dengan sebuah sastra. Dengan melihatnya saja, aku merasakan keabadian sastra yang tersirat di diri seorang hawa. Sungguh, perasaan langka yang tak seharusnya ku acuhkan.
Aku berjalan dan berjalan mendekati perempuan itu. Tanpa ragu ku tarik tangannya, tubuhnya pun berputar. Waktu seakan-akan melambat ketika tubuhnya berputar ke arahku. Bagaikan sedang berdansa walts, ku pegang pinggangnya. Tubuh kami berhimpitan. Ia pun menenggakkan kepalanya untuk menatap mataku. Mata itu adalah sepasang mata yang tak akan pernah ku temui lagi seumur hidupku bila ku lewatkan begitu saja, begitu indah. Setiap inci dari tubuh perempuan ini terlihat begitu indah. Tuhan, sungguh indah karya-Mu ini.
Kami berdua terpaku ke dalam tatapan satu sama lain. Tubuh mungilnya terasa begitu pas dengan tubuhku yang tinggi ini. Jantungku bergetar begitu dahsyat. Ia adalah mahakarya dari Tuhan Yang Maha Esa yang baru saja ku temukan.
Aku tahu yang aku lakukan saat ini gila. Mungkin perempuan ini akan menamparku beberapa saat lagi. Tetapi, sebelum semua itu terjadi, aku harus menikmati keindahan mahakarya Tuhan ini. Dengan menatap wajahnya, membuatku merasakan surga itu nyata. Sungguh, aku tak mengerti mengapa pesona perempuan aneh ini begitu dahsyat.
 “Kamu sembunyi dimana selama ini?” Tanyaku, dari sekian banyak perkataan yang ku rangkai di dalam otakku, hanya kata itulah yang berhasil keluar dari mulutku. Perempuan itu membisu, tidak menjawab pertanyaanku. Matanya melihatku dengan pandangan yang bingung.
Tunggu, itu bukan tatapan seorang yang sedang bingung. Tatapan itu terlalu berbinar bagai bintang bersinar di balik pupil matanya. Apakah ia merasakan hal yang sama kepadaku?


***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar