Minggu, 17 Juli 2016

Senja

Pasir pantai terasa menggelitik telapak kakiku tiap kali aku melangkah. Asik, memang. Berjalan di tepi pantai menjadi salah satu hobiku saat ini. Bukan hanya sensasi menggelitik dari pasir yang membuatku menyukainya, tetapi hempasan angin yang berhembus membuatku merasa seperti terbang di cakrawala. Aku bebas.


            Rambut panjangku saat ini begitu berantakan, tetapi aku tidak akan menyalahkan angin yang berhembus. Ini adalah resiko dari hobi unikku. Aku pun tidak peduli akan penampilanku saat ini. Yang aku pedulikan hanyalah air laut yang terkadang malu-malu menyentuh kaki telanjangku. Ombak di pantai ini tidak terlalu besar sehingga jarang sekali orang berkunjung kesini. Tetapi, bagiku, kesunyian dari pantai ini adalah suatu daya tarik yang sangat luar biasa. Ku namai pantai ini sebagai pantai Aku. Ya, pantai ini hanya milikku seorang.

            Namaku Lana Andhira. Aku adalah seorang Jurnalis di surat kabar yang berkantor di Denpasar, Bali. Hari-hariku sebagai Jurnalis begitu sibuk. Terlalu banyak berita yang harus ku tulis setiap harinya. Tetapi, semua hal itu tak membuatku jenuh ataupun geram. Aku begitu menyukai pekerjaanku hingga rela dibayar rendah oleh perusahaan tempatku bekerja. Kantor surat kabar tempatku bekerja dimiliki oleh sepupuku yang bernama Septyana. Atas nama keluarga aku menawarkan diriku untuk bekerja di perusahaan surat kabar miliknya. Menyesal karena digaji rendah? Tentu tidak. Menyuarakan kebenaran adalah tekadku. Bila aku sudah bertekad, tidak ada yang dapat menggoyahkanku. Bahkan suamiku sendiri pun tidak dapat melakukan itu.

            Aku memejamkan mata dan menghirup harumnya lautan. Wanginya menenggelamku ke dalam fantasi masa lalu ketika aku pertama kali menemukan pantai terpencil ini.

            Masih segar di pikiranku tentang masa itu. Masa dimana hidupku hampir hancur karena telah ditinggalkan seorang lelaki yang biasa ku sebut sebagai belahan jiwa. Mungkin ditinggalkan adalah hal yang biasa bagiku. Tetapi ditinggalkan dengan bagian dirinya yang hidup di dalam rahimku? Rasanya tidak pantas ia pergi dan meninggalkan jejak di dalam tubuh ini. Ya, dia memang meninggalkanku ketika mengetahui aku tengah mengandung anaknya. Pengecut. Ia memang pengecut karena takut menjadi seorang ayah. Lantas, bila ia setakut itu, mengapa berani-beraninya ia menyentuh tubuhku pada malam itu? Kenikmatan sesaat yang memberikanku efek jangka panjang, sungguh ironi.

Teman-temanku menyarankanku untuk mengugurkan kandunganku. Mereka menyatakan bahwa tidak ada artinya anak itu hidup tanpa adanya seorang ayah yang akan menopangnya. Memang benar apa yang mereka katakan, tetapi aku tak sebejat itu. Tidak boleh aku korbankan nyawa bayiku hanya karena ia tidak memiliki ayah. Bukan tidak memiliki, tetapi ayahnya tidak ingin mengakui keberadaannya. Ayahnya terlalu pengecut untuk bertanggung jawab.

Bagiku memohon-mohon kepada lelaki itu untuk bertanggung jawab adalah hal yang haram untuk dilakukan. Seorang pengecut akan tetap menjadi seorang pengecut. Sehingga, aku pun memutuskan untuk merangkul semua beban ini sendirian.

Orang tuaku telah membuangku ketika mengetahui aku hamil. Ayahku, ia adalah lelaki keras kepala yang pikirannya masih kuno. Ibuku , ia pun tak mampu menatapku ketika aku pergi meninggalkan rumahku yang berada di daerah Sanur. Aku sadar, memang pantas mereka memperlakukanku seperti itu, toh aku telah mencoreng nama keluargaku yang begitu agung dan terpandang.
            
           Di tinggalkan oleh belahan jiwa dan orang tuaku memang membuatku begitu hancur. Tetapi, aku tidak pernah berhenti untuk berjuang, aku masih sanggup menopang semua ini. Pernah sekali terlintas di benakku untuk bunuh diri. Tetapi, lagi-lagi, untuk melakukan itu aku memikirkan tentang sosok tidak berdosa yang tengah ku kandung. Ia ingin melihat dunia, aku yakin. Aku tidak dapat egois dengan hanya memikirkan kesakitanku saja.  
        
        Hidupku terselamatkan ketika aku bertemu dengan sepupuku yang baru saja pulang dari Amerika, Septyana. Hari-hari suramku pun berakhir ketika ia menawarkanku sebuah pekerjaan. Septyana memang selalu baik kepadaku. Ia selalu saja menjadi penolongku. Sesaat setelah ia mengetahui bahwa aku diusir oleh kedua orang tuaku, ia langsung meneleponku dan menyuruhku untuk tinggal bersamanya. Ia telah menjadi sandaran bagiku. Pelepas rasa sakit dari dadaku. Stress reliever.

            Ia selalu berkata kepadaku, “Menjadi seorang ibu adalah anugerah yang di impikan seluruh wanita di dunia ini.” Kata-kata yang ia ucapkan memang begitu sederhana, tetapi begitu membakar semangatku untuk menjalani hidup ini dengan segigih dan sekuat mungkin demi masa depan calon anak yang tengah ku kandung saat itu. Ya, aku tak ingin ia merasakan penderitaanku ketika lahir di dunia ini. Ia harus hidup bahagia.

            Jika aku dapat menulis surat untuk Tuhan, aku akan meminta-Nya untuk menjauhi anakku dari rasa sedih. Aku juga akan meminta-Nya untuk menjauhkan dirinya dari segala kesengsaraan, sehingga ia dapat hidup bahagia selamanya tanpa harus merasakan penderitaan seperti diriku.

          Selama masa kehamilanku, aku sering bepergian demi mencari sebuah berita untuk di suarakan kepada dunia. Di perjalananku lah aku menemukan sebuah pantai tidak bertuan ini. Sejak pertama kali aku datang ke pantai ini, aku selalu merasa jiwaku terpulihkan. Semua rasa stress dan penderitaan yang ku alami hilang sudah bersama angin yang berhembus.

            Aku sering menghabiskan waktu seorang diri di pantai ini tiap akhir pekan. Kesunyian pantai inilah yang membuatku betah untuk berkunjung. Pantai ini adalah lautan inspirasi bagiku. Terkadang, aku menulis sebuah berita di pinggir pantai sambil mendengar suara ombak. Lantunan suara ombak yang begitu menenangkan, membuatku merasa seperti berada di surga. Surga dunia yang tidak semua orang dapat merasakannya. Aku rasa anakku pun senang dengan tempat ini, karena tiap kali aku kesini, ia selalu bergerak bebas di dalam perutku. Menendang perutku hingga muncul benjolan kecil yang akan hilang bila aku mengusapnya. Aku bahagia, sungguh. Terima kasih ibu, ayah, karena telah membuangku.

            Kesunyian pantai ini hilang ketika seorang lelaki, tanpa diundang, datang dan mencoba menenggelamkan dirinya di laut. Aku, yang saat itu sedang menulis artikel, tanpa berpikir panjang langsung meninggalkan laptopku dan berlari menuju lelaki yang tengah menyerahkan dirinya kepada lautan itu. Ketika aku menghampirinya, betapa malunya diriku, karena ternyata lelaki itu hanya mencoba untuk berenang di tengah hangatnya senja di sore hari. Aku sungguh ingat kata-kata pertama yang ia ucapkan ketika aku menarik tangannya untuk menjauhi pantai, “Santai, nona! Saya hanya ingin berenang.” Ucapnya.

            Awkward. Mungkin hanya kata itu yang dapat mendeskripsikan apa yang ku rasa pada saat itu. Tetapi, aku yakin bila aku tidak berlari dan menghampirinya, aku akan menyesal seumur hidupku.

            Kami berdua menghabiskan waktu dengan berbicara di tepi pantai. Awalnya, aku tak begitu peduli dengan topik pembicaraannya, tetapi semakin lama aku merasa lelaki ini begitu unik. Namanya adalah Hansen. Ia adalah lelaki berdarah campuran antara Bali dan Australia. Ibunya berasal dari Australia, sementara ayahnya adalah seorang asli Bali yang bernama I Putu Dewangga. Ia menceritakan kepadaku tentang betapa payah hidup yang ia jalani selama ini. Menanggapi itu, aku hanya dapat tersenyum karena merasa ia masih begitu beruntung karena memiliki orang tua yang selalu mendukung dirinya apapun keadaannya. Tidak sepertiku.

            Ia juga bercerita kepadaku tentang pengalamannya mengelilingi dunia. Ia mengatakan bahwa begitu banyak pantai seperti ini di luar sana. Pantai tidak bertuan yang indahnya bagaikan lukisan paling sempurna dari Sang Pencipta Semesta. Passionnya dalam dunia fotografi memang patut ku acungi jempol. Ia begitu gigih menjalani hobinya itu hingga dapat membuka galeri foto yang saat ini tersebar di New York, Jakarta, Denpasar, dan Perth. Ia selalu mengatakan semua pencapaiannya itu karena orang tuanya selalu mendukungnya secara penuh. Sungguh, beruntung sekali.

            Hansen Dewangga. Nama yang begitu sederhana. Tetapi, harus ku akui ia memiliki hati yang rumit dan indah dalam waktu yang sama. Tidak hanya wajah dan tubuhnya yang seperti model papan atas yang membuat wanita mana pun bertekuk lutut ketika menatapnya, tetapi perspektifnya terhadap masa depan membuatku merubah sudut pandangku akan dunia ini. Hal favoritku dari seorang Hansen Dewangga adalah kerendahan hatinya dan rambut ikal berwarna cokelat miliknya.

            Setelah hari itu, kami sering bertemu di pantai ini setiap akhir pekan pukul 5 sore. Di pantai inilah kami selalu berbagi cerita tentang kehidupan yang kami jalani. Hansen telah menjadi sahabat pertamaku. Ia selalu memberi dukungan kepadaku untuk selalu kuat menjalani kehidupan ini. Hobinya ketika bertemu denganku adalah mendengarkan detak jantung anak yang berada di dalam perutku. Ia mengatakan bahwa menjadi single mother adalah sesuatu yang harus dibanggakan, karena seorang single mother adalah malaikat tanpa sayap yang hatinya terbuat dari besi. Begitu kuat.

            Aku tidak tahu bagaimana awalnya hingga aku dan dia menjadi sedekat nadi. Hansen adalah sahabatku. Seorang lelaki yang berhasil membuatku merasa bahwa duniaku akan baik-baik saja hanya dengan obrolan akhir pekan yang selalu kita lakukan selama 5 bulan berturut-turut lamanya.

            Tetapi, tiba-tiba ia menghilang tepat ketika aku sedang melahirkan anak pertamaku. Putriku. Aku memang sudah terbiasa ditinggalkan. Tetapi, hilangnya seorang Hansen Dewangga membuat rongga besar di dalam dadaku.  Sebuah kekosongan yang aku sendiri tidak menyangka akan ada bila ia pergi dari hidupku.

            Rongga dalam dadaku itu kemudian perlahan mulai hilang dan terisi karena kehadiran putri mungilku yang ku beri nama Sheila. Aku begitu beruntung memilikinya. Tidak dapat ku bayangkan bila saat itu aku mendengarkan saran dari teman-temanku, mungkin hidupku tidak akan selengkap sekarang.

            Sheila adalah jimat keberuntunganku. Kehadiran Sheila, perlahan-lahan menyatukan pecahan-pecahan kehidupanku. Walaupun tidak dengan kedua orang tuaku, tetapi Sheila berhasil membawaku bertemu kembali dengan Hansen di sebuah toko roti di daerah Nusa Dua. Tepat tiga tahun setelah ia meninggalkanku.

            Saat itu Hansen begitu terkejut melihatku. Mungkin karena perutku tidak sebesar terakhir kali ia melihatku. Kami berbincang begitu lama di toko roti itu. Hansen menjelaskan bahwa alasan ia menghilang adalah untuk menempuh gelar magister yang saat itu tengah ia ambil di Belanda. Aku pun hanya dapat tersenyum dan mendengarkan penjelasannya. Tetapi dari sekian banyak topik pembicaraan kami saat itu, satu hal yang tidak kusangka adalah pernyataan cintanya kepadaku. Ya, ternyata selama ini ia memendam perasaannya kepadaku. Ia ingin menghubungiku, tetapi ia tidak mengetahui identitasku sehingga mencariku, dapat dikatakan, adalah hal yang tidak mungkin. Aku masih ingat setiap detil yang terjadi pada hari itu. Hari dimana seluruh kehidupanku berubah. Aku pun merasa doaku telah di dengar oleh Tuhan.

            “Aku seorang ibu dengan satu anak. Apakah itu tak apa-apa?” Tanyaku kepadanya pada saat itu.  
          Ia hanya menatapku lalu berkata, “Bahkan bila kamu punya 5 anak pun tidak akan berpengaruh terhadap perasaanku kepadamu, Lana.” Ucapnya. Tanpa adanya keraguan sedikit pun.
            “Bagaimana dengan orang tuamu?”
            “Orang tuaku? Mereka telah mengetahui tentang dirimu, setiap detail dirimu yang dapat ku ingat, mereka mengetahui itu semua. Mungkin kamu akan berpikir bahwa mereka akan melarangku untuk bertemu denganmu. Tetapi, pada kenyataannya tidak. Mereka malah menyuruhku untuk segera menyelesaikan magisterku dan melamarmu secepat mungkin.” Jelasnya.

            Saat itu, jantungku terasa seperti akan keluar dari tubuhku. Apa-apaan ini? Setelah menghilang selama tiga tahun tanpa adanya pernyataan cinta, ia melamarku? Mungkin ia hanya bercanda!

            Tetapi, pada kenyataannya tidak. Ia tidak bercanda pada setiap detil kata-kata yang ia ucapkan pada saat itu. Ia membuktikannya. Beberapa minggu setelah pertemuan itu, ia membawaku ke rumahnya untuk mengenalkanku kepada kedua orang tuanya. Aku pun membawa Sheila. Perkiraanku, orang tuanya tidak akan menyambutku dengan baik. Ternyata tidak, mereka begitu hangat kepadaku. Bahkan mereka begitu menyukai Sheila. Kehangatan kedua orang tua Hansen itu sungguh menyentuhku.

            Saat ini, aku pun begitu bangga menyebut seorang Hansen Dewangga sebagai suamiku. Penyelamatku.

            Ingatan-ingatan pahit yang berakhir indah itu berputar di kepalaku bagai film dokumenter. Tetapi, bila aku dapat memutar balik waktu, aku tetap akan memilih apa yang ku pilih saat ini. Tak ada rasa penyesalan sekali pun. Bagiku semua ini adalah takdir dari Sang Pencipta yang begitu indah.

            Matahari mulai terbenam di ujung pantai, membuat langit menjadi sedikit gelap dengan garisan oranye di cakrawala. Ku hentikan langkahku dan menatap matahari yang sedang terbenam itu dengan senyuman yang merekah di bibirku. Senja, mengapa kau begitu indah?

            Seseorang memelukku dengan kedua tangannya yang panjang. “Udah mulai gelap, ayo kita pulang!” Bisiknya di telingaku.

            Aku berbalik dan menatap sesosok lelaki yang berdiri di belakangku. Sesosok lelaki bertubuh tinggi, berambut ikal, dan bermata cokelat terang. Sungguh tampan ciptaanMu, Tuhan. “Sebentar lagi, suamiku.” Ucapku. Aku pun kembali membalikkan tubuhku dan menatap langit senja yang begitu indah dengan sepasang tangan Hansen yang tidak ada lelahnya merengkuh tubuhku yang membesar karena tengah mengandung anaknya itu.

            “Aku mencintaimu, Lana.” Ucapnya seraya matahari yang mulai hilang dari garis khatulistiwa.
            Tanpa ragu, aku pun berkata, “Aku juga, Hansen. Terima kasih karena telah memilihku.” Ucapku.

            Hidupku begitu lengkap saat ini, aku merasa semua yang terjadi kepadaku adalah garisan takdir. Teka-teki takdir, tak patut kita keluhkan. Karena, seperti kata orang-orang, semua akan indah pada waktunya. Kebahagiaan akan menghampirimu di waktu yang tepat. Dan ketika waktu itu datang, aku jamin, kau akan merasa beruntung karena telah bertahan di kehidupan yang begitu indah ini.
***

           
           
           
           


           
           
           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar