Pasir pantai terasa menggelitik telapak kakiku tiap
kali aku melangkah. Asik, memang. Berjalan di tepi pantai menjadi salah satu
hobiku saat ini. Bukan hanya sensasi menggelitik dari pasir yang membuatku
menyukainya, tetapi hempasan angin yang berhembus membuatku merasa seperti
terbang di cakrawala. Aku bebas.
Rambut
panjangku saat ini begitu berantakan, tetapi aku tidak akan menyalahkan angin
yang berhembus. Ini adalah resiko dari hobi unikku. Aku pun tidak peduli akan
penampilanku saat ini. Yang aku pedulikan hanyalah air laut yang terkadang
malu-malu menyentuh kaki telanjangku. Ombak di pantai ini tidak terlalu besar
sehingga jarang sekali orang berkunjung kesini. Tetapi, bagiku, kesunyian dari
pantai ini adalah suatu daya tarik yang sangat luar biasa. Ku namai pantai ini
sebagai pantai Aku. Ya, pantai ini hanya milikku seorang.
Namaku
Lana Andhira. Aku adalah seorang Jurnalis di surat kabar yang berkantor di
Denpasar, Bali. Hari-hariku sebagai Jurnalis begitu sibuk. Terlalu banyak
berita yang harus ku tulis setiap harinya. Tetapi, semua hal itu tak membuatku
jenuh ataupun geram. Aku begitu menyukai pekerjaanku hingga rela dibayar rendah
oleh perusahaan tempatku bekerja. Kantor surat kabar tempatku bekerja dimiliki
oleh sepupuku yang bernama Septyana. Atas nama keluarga aku menawarkan diriku
untuk bekerja di perusahaan surat kabar miliknya. Menyesal karena digaji
rendah? Tentu tidak. Menyuarakan kebenaran adalah tekadku. Bila aku sudah
bertekad, tidak ada yang dapat menggoyahkanku. Bahkan suamiku sendiri pun tidak
dapat melakukan itu.
Aku
memejamkan mata dan menghirup harumnya lautan. Wanginya menenggelamku ke dalam
fantasi masa lalu ketika aku pertama kali menemukan pantai terpencil ini.
Masih
segar di pikiranku tentang masa itu. Masa dimana hidupku hampir hancur karena
telah ditinggalkan seorang lelaki yang biasa ku sebut sebagai belahan jiwa.
Mungkin ditinggalkan adalah hal yang biasa bagiku. Tetapi ditinggalkan dengan
bagian dirinya yang hidup di dalam rahimku? Rasanya tidak pantas ia pergi dan
meninggalkan jejak di dalam tubuh ini. Ya, dia memang meninggalkanku ketika
mengetahui aku tengah mengandung anaknya. Pengecut. Ia memang pengecut karena
takut menjadi seorang ayah. Lantas, bila ia setakut itu, mengapa
berani-beraninya ia menyentuh tubuhku pada malam itu? Kenikmatan sesaat yang
memberikanku efek jangka panjang, sungguh ironi.
Teman-temanku menyarankanku untuk
mengugurkan kandunganku. Mereka menyatakan bahwa tidak ada artinya anak itu
hidup tanpa adanya seorang ayah yang akan menopangnya. Memang benar apa yang mereka
katakan, tetapi aku tak sebejat itu. Tidak boleh aku korbankan nyawa bayiku
hanya karena ia tidak memiliki ayah. Bukan tidak memiliki, tetapi ayahnya tidak
ingin mengakui keberadaannya. Ayahnya terlalu pengecut untuk bertanggung jawab.
Bagiku memohon-mohon kepada lelaki itu
untuk bertanggung jawab adalah hal yang haram
untuk dilakukan. Seorang pengecut akan tetap menjadi seorang pengecut.
Sehingga, aku pun memutuskan untuk merangkul semua beban ini sendirian.
Orang
tuaku telah membuangku ketika mengetahui aku hamil. Ayahku, ia adalah lelaki
keras kepala yang pikirannya masih kuno. Ibuku , ia pun tak mampu menatapku
ketika aku pergi meninggalkan rumahku yang berada di daerah Sanur. Aku sadar,
memang pantas mereka memperlakukanku seperti itu, toh aku telah mencoreng nama keluargaku yang begitu agung dan
terpandang.
Di tinggalkan
oleh belahan jiwa dan orang tuaku memang membuatku begitu hancur. Tetapi, aku
tidak pernah berhenti untuk berjuang, aku masih sanggup menopang semua ini.
Pernah sekali terlintas di benakku untuk bunuh diri. Tetapi, lagi-lagi, untuk
melakukan itu aku memikirkan tentang sosok tidak berdosa yang tengah ku
kandung. Ia ingin melihat dunia, aku yakin. Aku tidak dapat egois dengan hanya
memikirkan kesakitanku saja.
Hidupku
terselamatkan ketika aku bertemu dengan sepupuku yang baru saja pulang dari
Amerika, Septyana. Hari-hari suramku pun berakhir ketika ia menawarkanku sebuah
pekerjaan. Septyana memang selalu baik kepadaku. Ia selalu saja menjadi
penolongku. Sesaat setelah ia mengetahui bahwa aku diusir oleh kedua orang
tuaku, ia langsung meneleponku dan menyuruhku untuk tinggal bersamanya. Ia
telah menjadi sandaran bagiku. Pelepas rasa sakit dari dadaku. Stress reliever.
Ia
selalu berkata kepadaku, “Menjadi seorang ibu adalah anugerah yang di impikan
seluruh wanita di dunia ini.” Kata-kata yang ia ucapkan memang begitu
sederhana, tetapi begitu membakar semangatku untuk menjalani hidup ini dengan
segigih dan sekuat mungkin demi masa depan calon anak yang tengah ku kandung
saat itu. Ya, aku tak ingin ia merasakan penderitaanku ketika lahir di dunia
ini. Ia harus hidup bahagia.
Jika
aku dapat menulis surat untuk Tuhan, aku akan meminta-Nya untuk menjauhi anakku
dari rasa sedih. Aku juga akan meminta-Nya untuk menjauhkan dirinya dari segala
kesengsaraan, sehingga ia dapat hidup bahagia selamanya tanpa harus merasakan
penderitaan seperti diriku.
Selama
masa kehamilanku, aku sering bepergian demi mencari sebuah berita untuk di suarakan
kepada dunia. Di perjalananku lah aku menemukan sebuah pantai tidak bertuan
ini. Sejak pertama kali aku datang ke pantai ini, aku selalu merasa jiwaku
terpulihkan. Semua rasa stress dan
penderitaan yang ku alami hilang sudah bersama angin yang berhembus.
Aku
sering menghabiskan waktu seorang diri di pantai ini tiap akhir pekan.
Kesunyian pantai inilah yang membuatku betah
untuk berkunjung. Pantai ini adalah lautan inspirasi bagiku. Terkadang, aku
menulis sebuah berita di pinggir pantai sambil mendengar suara ombak. Lantunan
suara ombak yang begitu menenangkan, membuatku merasa seperti berada di surga.
Surga dunia yang tidak semua orang dapat merasakannya. Aku rasa anakku pun
senang dengan tempat ini, karena tiap kali aku kesini, ia selalu bergerak bebas
di dalam perutku. Menendang perutku hingga muncul benjolan kecil yang akan
hilang bila aku mengusapnya. Aku bahagia, sungguh. Terima kasih ibu, ayah,
karena telah membuangku.
Kesunyian
pantai ini hilang ketika seorang lelaki, tanpa diundang, datang dan mencoba
menenggelamkan dirinya di laut. Aku, yang saat itu sedang menulis artikel,
tanpa berpikir panjang langsung meninggalkan laptopku dan berlari menuju lelaki
yang tengah menyerahkan dirinya kepada lautan itu. Ketika aku menghampirinya,
betapa malunya diriku, karena ternyata lelaki itu hanya mencoba untuk berenang
di tengah hangatnya senja di sore hari. Aku sungguh ingat kata-kata pertama
yang ia ucapkan ketika aku menarik tangannya untuk menjauhi pantai, “Santai,
nona! Saya hanya ingin berenang.” Ucapnya.
Awkward. Mungkin hanya kata itu yang
dapat mendeskripsikan apa yang ku rasa pada saat itu. Tetapi, aku yakin bila
aku tidak berlari dan menghampirinya, aku akan menyesal seumur hidupku.
Kami
berdua menghabiskan waktu dengan berbicara di tepi pantai. Awalnya, aku tak
begitu peduli dengan topik pembicaraannya, tetapi semakin lama aku merasa
lelaki ini begitu unik. Namanya adalah Hansen. Ia adalah lelaki berdarah campuran
antara Bali dan Australia. Ibunya berasal dari Australia, sementara ayahnya
adalah seorang asli Bali yang bernama I Putu Dewangga. Ia menceritakan kepadaku
tentang betapa payah hidup yang ia jalani selama ini. Menanggapi itu, aku hanya
dapat tersenyum karena merasa ia masih begitu beruntung karena memiliki orang
tua yang selalu mendukung dirinya apapun keadaannya. Tidak sepertiku.
Ia
juga bercerita kepadaku tentang pengalamannya mengelilingi dunia. Ia mengatakan
bahwa begitu banyak pantai seperti ini di luar sana. Pantai tidak bertuan yang
indahnya bagaikan lukisan paling sempurna dari Sang Pencipta Semesta. Passionnya dalam dunia fotografi memang
patut ku acungi jempol. Ia begitu gigih menjalani hobinya itu hingga dapat
membuka galeri foto yang saat ini tersebar di New York, Jakarta, Denpasar, dan
Perth. Ia selalu mengatakan semua pencapaiannya itu karena orang tuanya selalu
mendukungnya secara penuh. Sungguh, beruntung sekali.
Hansen
Dewangga. Nama yang begitu sederhana. Tetapi, harus ku akui ia memiliki hati
yang rumit dan indah dalam waktu yang sama. Tidak hanya wajah dan tubuhnya yang
seperti model papan atas yang membuat wanita mana pun bertekuk lutut ketika
menatapnya, tetapi perspektifnya terhadap masa depan membuatku merubah sudut
pandangku akan dunia ini. Hal favoritku dari seorang Hansen Dewangga adalah
kerendahan hatinya dan rambut ikal berwarna cokelat miliknya.
Setelah
hari itu, kami sering bertemu di pantai ini setiap akhir pekan pukul 5 sore. Di
pantai inilah kami selalu berbagi cerita tentang kehidupan yang kami jalani. Hansen
telah menjadi sahabat pertamaku. Ia selalu memberi dukungan kepadaku untuk
selalu kuat menjalani kehidupan ini. Hobinya ketika bertemu denganku adalah
mendengarkan detak jantung anak yang berada di dalam perutku. Ia mengatakan
bahwa menjadi single mother adalah
sesuatu yang harus dibanggakan, karena seorang single mother adalah malaikat tanpa sayap yang hatinya terbuat dari
besi. Begitu kuat.
Aku
tidak tahu bagaimana awalnya hingga aku dan dia menjadi sedekat nadi. Hansen
adalah sahabatku. Seorang lelaki yang berhasil membuatku merasa bahwa duniaku
akan baik-baik saja hanya dengan obrolan akhir pekan yang selalu kita lakukan
selama 5 bulan berturut-turut lamanya.
Tetapi,
tiba-tiba ia menghilang tepat ketika aku sedang melahirkan anak pertamaku.
Putriku. Aku memang sudah terbiasa ditinggalkan. Tetapi, hilangnya seorang
Hansen Dewangga membuat rongga besar di dalam dadaku. Sebuah kekosongan yang aku sendiri tidak
menyangka akan ada bila ia pergi dari hidupku.
Rongga
dalam dadaku itu kemudian perlahan mulai hilang dan terisi karena kehadiran putri
mungilku yang ku beri nama Sheila. Aku begitu beruntung memilikinya. Tidak
dapat ku bayangkan bila saat itu aku mendengarkan saran dari teman-temanku,
mungkin hidupku tidak akan selengkap sekarang.
Sheila
adalah jimat keberuntunganku.
Kehadiran Sheila, perlahan-lahan menyatukan pecahan-pecahan kehidupanku.
Walaupun tidak dengan kedua orang tuaku, tetapi Sheila berhasil membawaku
bertemu kembali dengan Hansen di sebuah toko roti di daerah Nusa Dua. Tepat
tiga tahun setelah ia meninggalkanku.
Saat
itu Hansen begitu terkejut melihatku. Mungkin karena perutku tidak sebesar
terakhir kali ia melihatku. Kami berbincang begitu lama di toko roti itu.
Hansen menjelaskan bahwa alasan ia menghilang adalah untuk menempuh gelar
magister yang saat itu tengah ia ambil di Belanda. Aku pun hanya dapat
tersenyum dan mendengarkan penjelasannya. Tetapi dari sekian banyak topik pembicaraan
kami saat itu, satu hal yang tidak kusangka adalah pernyataan cintanya
kepadaku. Ya, ternyata selama ini ia memendam perasaannya kepadaku. Ia ingin
menghubungiku, tetapi ia tidak mengetahui identitasku sehingga mencariku, dapat
dikatakan, adalah hal yang tidak mungkin. Aku masih ingat setiap detil yang
terjadi pada hari itu. Hari dimana seluruh kehidupanku berubah. Aku pun merasa
doaku telah di dengar oleh Tuhan.
“Aku
seorang ibu dengan satu anak. Apakah itu tak apa-apa?” Tanyaku kepadanya pada
saat itu.
Ia hanya
menatapku lalu berkata, “Bahkan bila kamu punya 5 anak pun tidak akan
berpengaruh terhadap perasaanku kepadamu, Lana.” Ucapnya. Tanpa adanya keraguan
sedikit pun.
“Bagaimana
dengan orang tuamu?”
“Orang
tuaku? Mereka telah mengetahui tentang dirimu, setiap detail dirimu yang dapat
ku ingat, mereka mengetahui itu semua. Mungkin kamu akan berpikir bahwa mereka
akan melarangku untuk bertemu denganmu. Tetapi, pada kenyataannya tidak. Mereka
malah menyuruhku untuk segera menyelesaikan magisterku dan melamarmu secepat
mungkin.” Jelasnya.
Saat
itu, jantungku terasa seperti akan keluar dari tubuhku. Apa-apaan ini? Setelah menghilang selama tiga tahun tanpa adanya
pernyataan cinta, ia melamarku? Mungkin ia hanya bercanda!
Tetapi,
pada kenyataannya tidak. Ia tidak bercanda pada setiap detil kata-kata yang ia
ucapkan pada saat itu. Ia membuktikannya. Beberapa minggu setelah pertemuan
itu, ia membawaku ke rumahnya untuk mengenalkanku kepada kedua orang tuanya. Aku
pun membawa Sheila. Perkiraanku, orang tuanya tidak akan menyambutku dengan
baik. Ternyata tidak, mereka begitu hangat kepadaku. Bahkan mereka begitu
menyukai Sheila. Kehangatan kedua orang tua Hansen itu sungguh menyentuhku.
Saat
ini, aku pun begitu bangga menyebut seorang Hansen Dewangga sebagai suamiku.
Penyelamatku.
Ingatan-ingatan
pahit yang berakhir indah itu berputar di kepalaku bagai film dokumenter.
Tetapi, bila aku dapat memutar balik waktu, aku tetap akan memilih apa yang ku
pilih saat ini. Tak ada rasa penyesalan sekali pun. Bagiku semua ini adalah takdir
dari Sang Pencipta yang begitu indah.
Matahari
mulai terbenam di ujung pantai, membuat langit menjadi sedikit gelap dengan
garisan oranye di cakrawala. Ku hentikan langkahku dan menatap matahari yang
sedang terbenam itu dengan senyuman yang merekah di bibirku. Senja, mengapa kau
begitu indah?
Seseorang
memelukku dengan kedua tangannya yang panjang. “Udah mulai gelap, ayo kita
pulang!” Bisiknya di telingaku.
Aku
berbalik dan menatap sesosok lelaki yang berdiri di belakangku. Sesosok lelaki
bertubuh tinggi, berambut ikal, dan bermata cokelat terang. Sungguh tampan
ciptaanMu, Tuhan. “Sebentar lagi, suamiku.” Ucapku. Aku pun kembali membalikkan
tubuhku dan menatap langit senja yang begitu indah dengan sepasang tangan Hansen
yang tidak ada lelahnya merengkuh tubuhku yang membesar karena tengah
mengandung anaknya itu.
“Aku
mencintaimu, Lana.” Ucapnya seraya matahari yang mulai hilang dari garis
khatulistiwa.
Tanpa
ragu, aku pun berkata, “Aku juga, Hansen. Terima kasih karena telah memilihku.”
Ucapku.
Hidupku
begitu lengkap saat ini, aku merasa semua yang terjadi kepadaku adalah garisan
takdir. Teka-teki takdir, tak patut kita keluhkan. Karena, seperti kata
orang-orang, semua akan indah pada waktunya. Kebahagiaan akan menghampirimu di
waktu yang tepat. Dan ketika waktu itu datang, aku jamin, kau akan merasa
beruntung karena telah bertahan di kehidupan yang begitu indah ini.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar